Saya suka hujan. Sejak dulu. Sore setelah hujan mencuci bumi adalah momen terbaik yang membawa perasaan bahagia. Saya suka hujan; hujan yang turun kecil-kecil saja. Hujan besar kerap membuat saya takut. Hujan besar tengah malam biasanya berujung pada sebuah kecemasan.
Saya suka hujan. Sama seperti hujan kecil-kecil yang turun malam ini. Biasanya saya melongokkan kepala keluar jendela. Mengambil nafas panjang-panjang, memuaskan rongga hidung yang membaui wangi tanah yang khas sehabis hujan.
Saya suka hujan. Tapi tidak hujan malam ini. Baru saja saya menutup telepon, mengakhiri pembicaran dengan ibu saya, sebelum akhirnya saya kembali ke posisi favorit saya ketika membaui hujan.
Sepeninggal bapak, ibu saya kini tinggal bertiga dengan adik yang paling kecil. Dengan membujuk-bujuk, seorang keponakannya akhirnya mau juga ikut tinggal di rumah. Bertigalah mereka mendiami rumah dengan halaman yang cukup luas itu.
Sepeninggal bapak, ibu saya juga mesti harus menyelesaikan beberapa tetek bengek, terutama tunggakan biaya pengobatan bapak selama koma. Cukup besar bila dibandingkan dengan pendapatannya sebagai guru. Pihak yang menabrak bapak telah mengajukan perdamaian; berjanji akan membayarkan sejumlah uang untuk membantu tunggakan rumah sakit. Namun keluarga kami dan mereka belum sepakat mengenai besar uang 'pertanggungan' yang akan mereka bayarkan.
Dan itulah topik pembicaraan telepon yang singkat tadi. Ibu mengungkapkan kekecewaannya pada proses 'perdamaian' ini.
Saya cuma bisa menarik napas panjang berkali-kali. Kecewa dengan hal ini, tentu saja. Tapi yang lebih menohok adalah kenyataan bahwa ternyata setelah kehilangan suami tercintanya, ibu masih harus dipusingkan oleh hal-hal seperti ini. Seharusnya ibu bisa lebih berpusat pada usahanya menenangkan diri. Tak perlu dia harus berpusing-pusing lagi. Sudah cukuplah beban yang ada padanya…
Saya juga kecewa pada diri saya sendiri. Tak bisa berbuat sesuatu apa pun.
Di akhir pembicaraan, ibu kembali berpesan "Abang juga harus kuat ya. Banyak-banyaklah berdoa. Ingat semua pesan-pesan yang pernah Bapak beri. Lanjutkan cita-cita bapak yang diamanatkan ke abang. Kalau abang berhasil, bapak pun pasti senang di sana…."
Saya hanya terdiam setelah menutup telepon. Di tengah begitu besarnya beban yang ada padanya, ibu saya tetap tak lupa memperhatikan anaknya ini.
Dan saya cukup lama terdiam melongokkan kepala ke luar jendela. Hanya diam, memandangi rintik-rintik hujan yang turun perlahan mengiris-iris udara malam yang makin dingin. Sambil sesekali menghela napas panjang.
Saya akhiri lamunan tadi dengan sekali lagi menghela napas panjang, sangat panjang, sambil menyeka butir-butir air mata yang turun satu-satu.
Saya suka hujan; hujan yang turun kecil-kecil saja. Hujan besar kerap membuat saya takut. Hujan besar tengah malam biasanya berujung pada sebuah kecemasan.
Saya suka hujan. Tapi tidak hujan yang ini…