…
Kau yang di sana, terpisah jarak waktu *
Aku disini, merindukan bayangmu *
…
Secara goblognya gw tanpa sadar berselancar di halaman-halaman web internet yang harusnya memang tidak boleh tersentuh lagi (bahkan sudah dihapus dari Bokkmarks-nya Firefor). Tapi rasa penasaran memang musuh abadi manusia. Dan seperti yang sudah-sudah, efek samping yang muncul adalah: bengong selama berpuluh-puluh detik, garuk-garuk kepala, hembusan nafas dalam beberapa kali, dan terakhir adalah makin menikam diri dengan sengaja membuka-buka lagi foto-foto lama. Yupe, sometimes good memories can kill me…
Seorang kawan perempuan pernah bercerita sambil menanggapi ceritaku tentang hubungan percintaan jarakjauh yang cenderung kandas. Perempuan itu makhluk yang menghamba pada “perhatian”, katanya. We women need to be center of the universe. Hubungan jarak jauh cenderung mempersulit datangnya perhatian, meski sekarang sudah zamannya mobile phone, sms, bahkan video call. “Touch and care, especially physical, really works on us”, tambahnya. Dan rentetan penjelasan serupa yang meluncur dari mulutnya pun akhirnya aku amini dan iyakan.
…
Setiap saat, setiap waktu, kuingat dirimu *
…
Untuk kau yang indah, dari senyummu kini kulihat kebahagiaan. Kusematkan ucapan selamat bahagia untukmu dan untuknya.
(* lyric of Kau Yang Terindah by Java Jive)