Stasiun KA Tawang – Semarang
Minggu, H+4 Lebaran 2008, menjelang tengah malam.
Seorang pemuda dengan setelan jeans cokelat dan t-shirt berwarna senada berjalan melintasi lorong peron stasiun dengan bergegas. Dia terlihat sangat berhati-hati dan awas dengan barang bawaannya yang tidak seberapa. Di bahu kanannya menggantung tas olahraga berukuran sedang. Di bahu kirinya dia sematkan tas hitam berukuran kecil. Dia menggenggam erat tali penopang tas itu sembari di jari telunjuknya juga melingkar tali rami kecil lain, tempat bergantungnya sebuah tas belanjaan bermotif gambar lilin dan balon warna-warni. Berbagai rupa tulisan “Happy Birthday” menambah coraknya.
“Taksi, Mas? Pake meteran kok. Murah. Mari saya antar?”
“Ngga pak, makasih. Saya tinggal deket sini kok.”
“Ooo.., kalo deket naik becak aja Mas. Saya juga bisa narik mbecak….”
“Hah???”
Si pemuda melotot-bengong-kaget-syok mendengar jawaban inovatif-kreatif si Bapak yang menawarkannya jasa. Sambil menggeleng dia langsung bergegas, mempercepat langkahnya menuju sebuah tempat pemberhentian taksi umum yang benar-benar menggunakan argo. Yap, memang butuh sedikit intrik untuk menghindar dari kejaran sopir-sopir taksi borongan yang kelakuannya ga jauh beda dengan segerombolan singa afrika lapar yang memimpikan makan siang ala fine dining dengan menu utama Paha Kambing Saus Tiram, lengkap dengan Jus Darah Kambing Segar, dan ditutup appetizer Es Cendol Mata Kambing. (Yaiks…..)
Setelah mengantri cukup lama (setara dengan waktu yang dibutuhkan untuk melototin sepasang Om-Tante yang berpelukan dan cubit-cubitan mesra layaknya mereka sedang pacaran berduaan di sawah; menduga-duga ukuran cup BH seorang wanita muda yang mondar-mandir di depan stasiun sambil ketawa ngakak-mendekati-70-desibel; menyumpahi seorang cowo ABG dengan ketampanan dibawah rata-rata tapi dengan manjanya gelayutan di bahu seorang cewe ABG yang membalasnya dengan membelai-belai rambut si cowo), akhirnya si pemuda menemukan juga taksi idamannya, taksi meteran yang jujur dan tak ingkar janji. *halah2…*
“Ke Hotel Horison, Pak!”
“Baik, Mas”
Tak lama berselang, si pemuda mengambil ponselnya, memanggil sebuah nomor.
“Oo..Oo…, KAMU KETAUAAAANNN… PACARAN LAGIIII… DENGAN DIRINYAAAA….”
“ANJRITTT… NAJISSSSS…”
Si pemuda dengan serta merta menjauhkan ponselnya dari lubang telinganya, memberikan jeda dan istirahat sejenak pada daun telinganya yang baru saja tersiksa mendengar nada Ring Back Tone nomor tujuan. Sekarang dia mengerti mengapa belakangan di koran dia membaca banyaknya terjadi kasus ketulian akut menghinggapi anak-anak dan remaja yang baru saja menggunakan ponsel.
“HUALOWWWW….”
“EH SETAN! Lain kali milih RBT yangg bagusan dikit napa? Kaget nih kuping gua, syok!
Awas aja kalo ntar iuran asuransi gua membengkak karena gua harus selalu indent
cairan pembersih kuping!”
“BUAHUAHUAHUA…. Sori bro, tadi iseng-iseng aja milih RBT yang not-ordinary. You
know, bukan tipe gue buat langganan RBT islami. Apa lagi lu yang nelpun, bisa pecah
duluan tuh henpun. Hihihihihi…”
“Sialan lu…”
“Eh, gua dah di taksi nih. Lu nginep di Hotel Horison kan? Kamar berapa?”
“Iye, Hotel Horison. Kamar 1202. Deket ama lift. Kalo susye nyarinya, tanya aja ama
room boy, dimana kamar Mas Ahmad ganteng, pasti pada tau dah…”
“….”
“Dasar betawi gila!”
“Hihihihi…”
“Ya udah, ntar gue kabarin kalo dah nyampe.”
“Sip..sip..”
“Eh, ntar dulu. Lu di kamar ama siapa?”
“Ama siapa? Siapa maksudnya?”
“Iye, siapa tau lu lagi pacaran. Ntar gua ngeganggu lagi.”
“Lah, ini bukannya nungguin lu biar kita pacaran?”
“ANJRITTTT…”
“Hihihihihi…”
“Heran gua, udahlah tampang lu pas-pasan, kelakuan lu minus, tapi kok ya si Desty
mau aja lu pacarin. Buta apa ya dia? Hihihihihihi…”
“Hehehehe…, justru cowo biasa-biasa seperti gue yang laku bro. Justru karna
tampang gue pas-pasan, di Desty jadi ga perlu curigaan ato cemburuan kalo gue
bakalan selingkuh ama cewe laen…”
“Ah, itu mah emang lu aja yang kagak punya nyali…”
“Udah ah, ntar aja disambung. Ntar gua kabarin kalo dah nyampe.”
“Ok…Ok…”
Banggas mengakhiri pembicaraan. Dia mengecek isi Inbox smsnya. Hmm…, belum
dibalas juga, katanya dalam hati. Disandarkannya punggungnya dengan penuh ke bangku
taksi. Pandangan matanya mendadak sayu, dia tertunduk. Dilemparkannya pandangan ke
luar jendela taksi. Malam kota Semarang memang sepi. Hanya satu-satu kendaraan yang lewat.
Dipandanginya lagi ponsel yang sedari tadi digenggamnya erat-erat. Dibukanya Sent folder
yang ada di ponselnya.
27-09-2008 19:34
To. ShadedEyes
Sdh tiba di jktkah gerangan non?
No reply for this message.
29-09-2008 16:27
To. ShadedEyes
Met sore. Apa kbr liburannya? Menyenangkankah?
No reply for this message.
01-10-2008 08:45
To. ShadedEyes
Met pagi. Selamat Hari Kesaktian Pancasila. Kalo kita masih di SMA, kita pasti
lagi upacara bendera ya pagi ini? :p Eniwe, enjoy ur day!”
No reply for this message.
Banggas geleng-geleng. Entah kesambet setan dari mana sampe dia bisa mengirim sms
ajaib dengan tingkat kegaringan tinggi yang hanya bisa disaingi oleh garingnya kentang
Mr. Potato rasa pedas. Yah, tingkat putus asa yang sangat bisa membuat orang waras
dan ganteng seperti dia malah menjadi kandidat utama untuk dimasukkan ke ruangan sanitasi
rumah sakit jiwa.
Banggas sadar, tema-tema perjuangan bukanlah suatu materi yang menarik untuk dijadikan
bahan sms. Sehingga dia mengurungkan niatnya untuk menjadikan Hari ABRI di 5 Oktober
sebagai tema sms berikutnya. Meskipun dia sadar, dia pun sedang berada dalam ‘perjuangan’
saat ini, awal perjuangan malah.
Banggas kembali mengalihkan pandangannya ke luar jendela taksi. Dia baru sadar, ternyata
sedari tadi si sopir taksi bersenandung lagu Genjer-genjer. O-my-God. Jangan-jangan si
bapak ini salah satu bekas simpatisan gerakan 30 September yang masih hidup. Dia teringat
scene film Pemberontakan G30S/PKI yang menontonkan seorang Jendral berkumis sedang disayat
pipinya. Uuuhhh…Ya Tuhan, bagaimanakah nasib hambamu yang tampan namun sederhana ini?
Apakah sudah waktunya hambamu ini menghadap? Tapi hambamu ini belum kawin,
belum merasakan kenikmatan dunia….
Tapi kekawatirannya hilang begitu si sopir mengarahkan taksinya memasuki sebuah pelataran yang
diyakininya adalah pelataran hotel. Banggas makin bersukur lagi, dia mendapati bahwa
bendera yang berkibar di salah satu tiang bendera di pelataran itu adalah Merah Putih,
bukannya bendera berwarna merah dengan gambar palu arit ditengahnya. Banggas lega.
“Terimakasih, Pak”, kata Banggas seraya menyodorkan selembar duapuluhribuan ke si bapak
sopir taksi, “Kembaliannya ambil aja…”.
“Terimakasih, ndoro…”, balas si bapak.
“Sama-sama, Pak”
Di titik ini, Banggas menyadari betapa Belanda memang sukses menjajah dan meninggalkan kultur
feodalismenya hingga ke rakyat zaman sekarang. Ga make sense, katanya dalam hati.
Dia kemudian bergegas masuk ke dalam hotel, mengangguk layaknya seorang tamu yang sudah paham betul dimana posisi lift di hotel ini. Beginner’s lucky, ketika berjalan mengarah ke resepsionis, dia melihat pintu lift yang terbuka di sebelah kiri. Dengan drifting sempurna seperti di film The Fast & Furious: Tokyo Drift, dia berbelok ke kiri. Hap…,masuk ke lift, memencet angka 12, dan lift itu pun bergerak. Damn, I’m good, katanya dalam hati. Keluar lift di lantai 12, dengan sedikit celingak-celinguk, tibalah juga dia depan pintu kamar bernomor 1202.
“Tok…tok…”
“Iya, bentar… Pake celana dulu gue…”
“S*IT, BETAWI EDAN!”
“EH, GW DENGER YE!!!”
“HIHIHIHI…”
Pintu kamar hotel terbuka. Seorang lelaki tanggung (maksudnya nih lelaki ga jelas termasuk dalam kelompok umur mana, dibilang tua, tanggung; dibilang muda, ntar malah jadi fitnah) berkacamata gagang tebal serupa Om Benny Panjaitan terlihat tertawa nyengir kuda. Tangan kanannya terulur menyampaikan salam.
“Jadi juga lu ke Semarang?” katanya dengan tangan masih terulur.
“Jadi dong, secara udah gua rencanain dari jauh hari. Apaan nih ngulurin tangan?”
“Lah, lu harusnya kan ngucapin met lebaran ke gw?”
“Beuh…, darimana gua tau kalo itu tangan ga abis dari garuk-garuk pantat lu?” Banggas menepis.
“SI MONYET!!!”
“HIHIHIHI…”
Banggas mengikuti Ahmad masuk ke dalam kamar hotel, meletakkan bawaannya ke salah satu pojok kamar. Dihempasnya tubuhnya ke sebuah sofa yang berseberangan dengan Ahmad yang sudah duduk duluan dengan manisnya sambil memangku seekor anak monyet laptopnya. Dia nampak asik memencet-mencet keyboard laptopnya sambil sesekali senyum-senyum sendiri. Satu lagi dampak negatif teknologi yang membuat statistik jumlah orang gila semakin meningkat eksponensial belakangan ini. Banggas geleng-geleng sendiri. (Ya iyalah, masa geleng-geleng aja mesti rame-rame).
Sebungkus rokok dikeluarkannya dari saku celana, dibakarnya sebatang. Sambil menselonjorkan kaki, dihembuskannya nafas panjang.
“Mobil kantor positif bisa dipake kan besok?” tanya Banggas.
“Harusnya sih bisa, belum ada aktivitas apa-apa juga di kantor. Tempo hari sih Pak Sis bilang doi mo make mobil ke Salatiga, ada nikahan anaknya salah seorang pegawai di sini…”
“Walah…, gawat dong kalo besok ternyata mobilnya ga bisa gua pake?”
“Gampanglah, pake aja. Ntar kalo Pak Sis nanya, gue bilangin aja kalo tuh mobil lagi dibawa ke bengkel. Overhaul. Selese masalah.”
“Yakin lu?” Banggas bertanya dengan mimik wajah kawatir. “Gua ga punya back-up plan nih Mad kalo ternyata besok memang tuh mobil jadi dipake Pak Sis.”
“Iye, yakin, khusnul yakin!” jawab Ahmad lantang, tapi wajahnya tetap tak lepas dari menghadap si anak monyet laptopnya.
“Lagi pacaran lu ya?”
“Kagak. Ini lagi iseng-iseng isi bulletin board di friendster.”
“SARAP! INGET UMUR WOI! Kecentilan amat sih lu. Udah aki-aki ngapain juga pake ngisi-ngisi bulletin board segala.”
“Ah, cerewet lu ah. Udah sana telpun si Perca, bilang kalo lu besok mo ke sono.”
“Namanya Echa, SETAN! Justru gua sengaja ga bilang kalo gua lagi di sini. Biar besok jadi surprise.” Banggas menjawab sambil senyum-senyum.
“Ah, sok bikin surprise lu. Ntar kalo si Hanca ga di Kudus, mampus dah lu!”
“EH, JURIG, NAMA PANGGILANNYA ECHA! Gua sih ga bisa jamin, tapi Sabtu lalu gua sempet nelpun
adeknya di Jakarta. Dia bilang, kakaknya itu bakalan balik ke Kudus hari ini.”
“Ya udah, terserah.”
Suasana kemudian jadi hening. Ahmad kembali asik dengan aktivitas belajar mengetiknya. Banggas
membuang puntung rokoknya ke asbak. Disandarkannya kepalanya ke sofa. Matanya menerawang menatap
langit-langit kamar hotel. Beberapa saat dia terdiam.
***
Bakat juga lu bikin cerita-cerita seru, hihihi….
Comment by nugie — October 16, 2008 @ 6:36 am |
Hehehehe…
Tenkyuh ‘gie. Ditunggu komen2 berikutnya.
Comment by bekicotrasta — October 16, 2008 @ 6:38 am |
dude,
get a life !!
Comment by paulus — October 21, 2008 @ 5:49 am |
ngeh….tampaknya stress memuncak disana..
Comment by Iqbal — November 13, 2008 @ 8:19 am |
Mantap cerbung-nya bang In. Lanjut…
Comment by ericsonfp — December 3, 2008 @ 2:04 pm |
forget it ndro….cari yg lain
mau janjian POC aja udah susah apalagi sampe PO. ini type reliability rendah…bisa capek maintenance nya nanti….wkwkkw…
Comment by themask — April 24, 2009 @ 3:35 am |