Golf Driving Range Halim I – Jakarta
Awal September 2008, sore hari.
Bersama 2 orang teman semasa kuliahnya, Banggas terlihat sedang mengayun-ayunkan stik golf. Bila dilihat lebih dekat, sebenarnya orang awam sekali pun bisa menarik kesimpulan bahwa yang mereka lihat bukanlah postur seorang pegolf, bahkan tidak mendekati seorang amatir sekalipun. Betapa tidak, semua ayunan stik (bernapsu besar namun bertenaga kecil dengan tingkat akurasi rendah itu) dengan suksesnya jatuh di tanah antara kakinya dan seonggok bola golf kecil yang sama sekali tidak bergeming. Diyakini, 3 jam penuh aktivitas ini akan menciptakan hasil yang sama yang dilakukan oleh seorang penggali sumur: kubangan dengan diameter yang cukup untuk mengubur seekor babi hutan ukuran sedang.
Banggas mendadak berhenti. Dia menyadari betul bahwa aktivitas ini hanya akan menambah akut encok di pinggangnya, plus potensi ancaman hernia di usia dini (siapa pula ini dini?). Dia kemudian berjalan ke arah barisan tempat duduk yang ada. Dihampirinya tas abu-abu butut berstempelkan “The Handsome’s”. Dikeluarkannya sebuah ponsel dari tas tersebut, dan segera membuka Inbox.
“Eh, dibales…”
06-09-2008 17:16
From. ShadedEyes
Kbr baek.. Ak di kudus skrg,dpt koas disini. Br 1 mgg.
Msh di jkt?gmn kbrnya?
Serta merta Banggas membalas sms itu sambil tersenyum (beuh, dah berapa kali kata “tersenyum” dipake di tulisan ini ya?)
To. ShadedEyes
Wedew, jauh amat pttnya? Eh, koas ato ptt sih?
Eniwe, lagi ngapain nih sekarang?
“And send…” Tak lama Banggas bisa melihat ada Delivery report yang sampai di ponselnya. Hatinya berbunga-bunga. Dia sudah tidak peduli pada latian swingnya. Apalagi pada bola golf yang sedari tadi masih belum bergerak dari posisinya. Termasuk juga pada tanah berlubang yang sekarang makin dalam karena seekor anjing kampung datang mengais-ngais. Pun dia tak marah atau mengumpat begitu melihat scene berikutnya yang mempertontonkan si anjing dengan gaya ngangkang (apa kayang ya?) pipis tepat di bola golf yang nangkring dengan manis.
Tak lama berbengong ria, ponselnya berdering lagi. Ringtone-nya menandakan ada sms baru. Banggas cepat-cepat membuka Inboxnya.
06-09-2008 17:21
From. ShadedEyes
Ga ptt ‘la, cuma koas doank. Lg di smrg ne jln2 doank..
Matanya berbinar-binar. Dia kaget, si perempuan memanggilnya dengan nama panggilannya ketika SMU dulu, Kila. Meskipun dia sebenarnya sempat komplain, karena panggilan ini adalah singkatan dari “Kayak Indra Lesmana”. Panggilan ini muncul sebagai efek samping dari kontur dan potongan rambutnya yang absolutely and definitely ga mirip sama sekali dengan Indra Lesmana. Tapi apa boleh buat, daripada dihajar massa, Banggas ikhlas. Terutama saat temen-temennya menjustifikasi.
“Iya, lu kalo nyanyi kan kayak Indra Lesmana, tai lalatnya tapi, sama-sama item.”
Dengan segera dia menekan kombinasi “Options – Call – Voice Call” pada ponselnya. Tak lama, terdengar nada sambung.
“Halo?”
“Hai, halo juga. Met sore non. Lagi sibukkah gerangan?” Banggas memulai pembicaraan.
“Hei ‘la, apa kabar. Ga sibuk kok, ini lagi di tempat temen di Semarang.”
“Aku kabar baek kok. Kamu gimana kabarnya? Kok bisa dapet koas di Kudus? Bukannya UNTAR ada kerjasama dengan rumah sakit di Jakarta untuk tempat dokter koas?”
“Iya. Ini emang program baru, ini yang pertama nih. UNTAR ada kerjasama dengan Rumah Sakit Umum Daerah, salah satunya di Kudus. Aku sih awalnya ga berani. Tapi ya dicobain ajalah. Ternyata disini enak. Dokter koasnya lebih dihargai dan dihormati sama pasien dan perawatnya.”
“Ho oh, bener itu. Lagipula kalo di daerah, kamu harusnya bisa banyak dapat kasus-kasus unik dan menarik tuh. Trus kamu bisa menangani pasiennya langsung kan? Mayan kan tuh, kamu jadi banyak pengalaman?”
“AWAS!!!”
GEDEBUG
“Aduuuhhhh….”
“WOI… JANGAN JALAN DI TENGAH LAPANGAN!!!”
“Siyal…”
Banggas buru-buru berjalan ke arah tempat duduk sambil mengusap-usap lengan kanannya yang masih memegang ponsel. Ternyata, tanpa dia sadari, dia malah berjalan ke arah tengah lapangan sambil berbincang di telepon. (Makanya, jangan ngobrol pake henpun kalo lagi nyetir!)
“Kenapa ‘la?” suara dari ponsel bertanya.
“Engga, ga kenapa-kenapa kok…” Banggas menjawab sambil dalam hati dia mengutuk oknum yang membuat lengan kanannya sukses ketiban bola golf.
“Kamu lagi dimana nih?” suara dari ponsel bertanya seolah yakin bahwa lawan bicaranya baru saja membuat jawaban bohong level amatiran.
“Lagi di driving range, tempat latian maen golf. Ini baru belajar-belajar aja kok.”
“Ooooo….”
Dan beberapa menit pembicaraan kemudian adalah momen-momen berharga yang akan selalu diingat oleh Banggas. Bayangan si perempuan menari-nari di khayalannya. Sosok si perempuan, perawakan dan gerak-geriknya pun masih jelas tergambar di benaknya. Dan tentu saja yang paling dia ingat, sorot mata si perempuan; sorot mata teduh yang selalu dia rindukan.
***
Glup!
Gambate Kudasai!
Terus berjuang teman.
God will send the best for you.
* Ouw… Kila ya… bukan Ila?? *
Comment by phie — October 29, 2008 @ 3:28 am |
Hehehehe…, makasih buat komentarnya non.
Eniwe, ini ceritanya si Banggas lho…
Comment by delango — October 29, 2008 @ 2:39 pm |
hooo…ngeri…ngeri…makin serem aja ceritanya…
Comment by Iqbal — November 13, 2008 @ 8:19 am |