Membutuhkan 2 jam lebih perjalanan dari kantor sebuah client di daerah Ancol menuju kembali ke kantor di Sudirman di Jumat sore….
Orang2 Jakarta emang gila….
Membutuhkan 2 jam lebih perjalanan dari kantor sebuah client di daerah Ancol menuju kembali ke kantor di Sudirman di Jumat sore….
Orang2 Jakarta emang gila….
By the time the Lord made woman, He was into his sixth day of working overtime. An angel appeared and said, “Why are you spending so much time on this one, Lord?” And the Lord answered, “Have you seen my spec sheet on her? She has to be completely washable, but notplastic, have over 200 movable parts, all replaceable, able to run on Diet Coke and leftovers, have a lap that can hold four childrenat one time, have a kiss that can cure anything from a scraped knee to a broken heart – and she will do everything with only two hands.”
The angel was astounded at the requirements. “Only two hands!? No way!And that’s just on the standard model? That’s too much work for one day. Wait until tomorrow to finish.” But I won’t,” the Lord protested. “I am so close to finishing this creation that is so close to my ownheart. She already heals herself when she is sick AND can work 18 hour days.”The angel moved closer and touched the woman. “But you have made her so soft, Lord!” “She is soft,” the Lord agreed, “but I have also made her tough.You have no idea what she can endure or accomplish.” “Will she be able to think?”, asked the angel. The Lord replied, “Not only willshe be able to think, she will be able to reason and negotiate.”
The angel then noticed something and reaching out, touched the woman’s cheek. “Oops, it looks like you have a leak in this model. I told you that you were trying to put too much into this one.” That’s not a leak,” The Lord corrected, “that’s a tear!” “What’s the tearfor?” the angel asked. The Lord said, “The tear is her way of expressing her joy, Her sorrow, her pain, her disappointment, her love,her loneliness, her grief and her pride.” The angel was impressed. “You are a genius, Lord. You thought of everything! Woman is truly amazing.”And she is! Women have strengths that amaze men. They bear hardships and they carry burdens, but they hold happiness, love and joy.They smile when they want to scream. They sing when they want to cry. They cry when they are happy and laugh when they are nervous.
They fight for what they believe in. They stand up to injustice. They don’t take “No” for an answer when they believe there is a better solution. They go without so their family can have. They love unconditionally. They cry when theirchildren excel . Their hearts break and they grieve at the loss of a family member, or a friend, or even someone they don’t know well;yet they are strong when they think there is no strength left. They know that a hug and a kiss can help heal a broken heart.
Women come in all shapes, sizes and colors. They’ll drive, fly, walk, run or e-mail you to show how much they care about you. The heart of a woman is what makes the world keep turning. They bring joy, hope and love. They have compassion and ideals. They give moralsupport to their family and friends. Women have vital things to say and everything to give. However, If There Is One Flaw In Women itis that they forget their Worth.
Remind a woman you know just how amazing God made them to be!
| You Should Get a PhD in Liberal Arts (like political science, literature, or philosophy) |
You’re a great thinker and a true philosopher.You’d make a talented professor or writer. |
Aku Menangis untuk Adikku 6 Kali
Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat
terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah
kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke
langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih
muda dariku.
Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang
mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya
membawanya, Aku mencuri lima puluh sen dari laci
ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat
adikku dan aku berlutut di depan tembok,dengan sebuah
tongkat bambu di tangannya.
“Siapa yang mencuri uang itu?” Beliau bertanya.
Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah
tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau
mengatakan,
“Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!”
Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi.
Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata,
“Ayah, aku yang melakukannya!”
Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku
bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus
menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas.
Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batubata kami
dan memarahi, “Kamu sudah belajar mencuri dari rumah
sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu
lakukan di masa mendatang? Kamu layak dipukul sampai
mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!”
Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan
kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak
menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam
itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung.
Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan
berkata, “Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya
sudah terjadi.”
Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki
cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun
telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan
seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa
tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu,
adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11.
Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia
lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat
yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah
universitas propinsi. Malam itu, ayah berjongkok di
halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi
bungkus. Saya mendengarnya memberengut, “Kedua anak
kita memberikan hasil yang begitu baik…hasil yang
begitu baik…”
Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela
nafas, “Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa
membiayai keduanya sekaligus?”
Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah
dan berkata, “Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah
lagi, telah cukup membaca banyak buku.” Ayah
mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada
wajahnya. “Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu
keparat lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti
mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu
berdua sampai selesai!” Dan begitu kemudian ia
mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam
uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa
ke muka adikku yang membengkak, dan berkata, “Seorang
anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau
tidak ia tidak akan pernah
meninggalkan jurang kemiskinan ini.” Aku, sebaliknya,
telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke
universitas.
Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang,
adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai
pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering.
Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan
secarik kertas di atas bantalku: “Kak, masuk ke
universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari
kerja dan mengirimmu uang.”
Aku memegang kertas tersebut di atas tempat
tidurku,dan menangis dengan air mata bercucuran sampai
suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun.
Aku 20 tahun.
Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan
uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada
punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai
ke tahun ketiga (di universitas). Suatu hari, aku
sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku
masuk dan memberitahukan, “Ada seorang penduduk dusun
menunggumu di luar sana!”
Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku
berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh
badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku
menanyakannya, “Mengapa kamu tidak bilang pada teman
sekamarku kamu adalah adikku?” Dia menjawab,
tersenyum, “Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang
akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu?
Apa mereka tidak akan menertawakanmu?”
Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku
menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan
tersekat-sekat dalam kata-kataku, “Aku tidak perduli
omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apapun juga!
Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu…”
Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut
berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan
terus menjelaskan, “Saya melihat semua gadis kota
memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki
satu.” Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi.
Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan
menangis. Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23 tahun.
Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca
jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih
di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari
seperti gadis kecil di depan ibuku. “Bu, ibu tidak
perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk
membersihkan rumah kita!” Tetapi katanya, sambil
tersenyum, “Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk
membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka
pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca
jendela baru itu..”
Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat
mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku.
Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan
membalut lukanya. “Apakah itu sakit?” Aku
menanyakannya. “Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika
saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu
berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak
menghentikanku bekerja dan…”
Ditengah kalimat itu ia berhenti.Aku membalikkan
tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras
turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23. Aku berusia
26.
Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali
suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang
dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah
mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan
dusun,mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa.
Adikku tidak setuju juga, mengatakan, “Kak, jagalah
mertuamu aja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini.”
Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan
adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada
departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran
tersebut.Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja
reparasi.
Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk
memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan
listrik, dan masuk rumah sakit. Suamiku dan aku pergi
menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya
menggerutu, “Mengapa kamu menolak menjadi manajer?
Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang
berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang
begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami
sebelumnya?”
Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia
membela keputusannya. “Pikirkan kakak ipar–ia baru
saja jadi direktur, dan saya hampir tidak
berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu,
berita seperti apa yang akan dikirimkan?”
Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian
keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah: “Tapi kamu
kurang pendidikan juga karena aku!”
“Mengapa membicarakan masa lalu?” Adikku menggenggam
tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.
Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang
gadis petani dari dusun itu. Dalam acara
pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya
kepadanya, “Siapa yang paling kamu hormati dan
kasihi?” Tanpa bahkan berpikir ia menjawab, “Kakakku.”
Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah
kisah yang bahkan tidak dapat kuingat.
“Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun
yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan
selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke
rumah.
Suatu hari, Saya kehilangan satu dari sarung tanganku.
Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya
memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami
tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca
yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang
sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya
masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik
kepadanya.”
Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu
memalingkan perhatiannya kepadaku. Kata-kata begitu
susah kuucapkan keluar bibirku, “Dalam hidupku, orang
yang paling aku berterima kasih adalah adikku.
Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di
depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran
turun dari wajahku seperti sungai.
Sumber: Diterjemahkan dari “I cried for my brother six times”
Tulisan ribuan halaman dimulai dengan halaman pertama
Tulisan ribuan halaman hanya bisa diselesaikan dengan menuliskan kata demi kata . . .
Theme: Rubric. Blog at WordPress.com.